Asiaaudiovisualra09widarmawan’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Wartawan Bodrex

19/06/09
Wartawan bodrex berbeda dengan wartawan amplop. Wartawan amplop pengertianya adalah wartawan yang bekerja di media yang teratur terbit, bisa juga di media mainstream, tapi selain mencari informasi mereka juga mencari amplop. Sedang wartawan bodrex bekerja di media yang tidak jelas keberadaanya, tidak teratur menulis berita, serta hanya menguber amplop—bahkan tak jarang menggunakan cara pemaksaan. Ada banyak istilah untuk wartawan bodrex, seperti wartawan gadungan, wartawan Cuma nengok-nengok (CNN) atau muncul tanpa berita (Muntaber).
Dalam workshop di Serang, seorang peserta dari karang taruna setempat mengaku banyak wartawan gadungan mendatangi kantor- kantor dinas. Ia mengungkap:
“dinas-dinas menjadi ketakutan dengan kesliwerannya wartawan yang tidak benar. Saya kira adanya masalah ini berasal dari awal, yaitu saat rekrutmenya. Bisakah ada aturan pendidikan sebelum menjadi wartawan, sebagaimana yang diberlakukan pada pengacara.”
Seorang peserta dari Dinas Pendidikan, kabupaten Serang, mengaku didatangi wartawan Bodrex hampir setiap hari:
“mereka selalu membawa kartu pers dan menunjukkan surat kabar mingguan atau dua mingguan. Sehingga kalau tidak diterima kami khawatir jadi masalah. Orang sangat mudah mendapat kartu wartawan. Perlu ada peraturan dari dewan pers atau dari mana saja mengenai kartu pers. Agar yang kita hadapi benar-benar wartawan.”
Selama tujuh tahun terakhir, dalam diskusi-diskusi yang digelar dewan pers, selalu ada peserta yang mengeluh keberadaan wartawan bodrex. Orang yang bekerja di bidang kehumasan paling sering menghadapi wartawan bodrex. Wartawan bodrex dalam aksinya suka bergerombol, mendatangi acara-acara yang biasa membagi amplop. Menghadapi wartawan semacam ini seringkali masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya pasrah. Hal ini umumnya disebabkan persepsi yang keliru dalam melihat profesi wartawan sehingga menyamakan wartawan bodrex dengan wartawan profesional. Situasi kewartawan terkesan menjadi kacau, tidak teratur. Karena itu dibutuhkan kecerdasan masyarakat dalam melihat kapan seseorang bisa disebut wartawan atau preman berkedok wartawan.

June 15, 2009 - Posted by | Uncategorized |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.